Senin, 08 Desember 2008

Konten Lokal

Sewaktu internet di Indonesia masih berdarah-darah, orang kerap kali memplesetskan konten lokal sebagai infrastruktur lokal. Misalnya, ada usaha atau minimal keinginan untuk memberdayakan infrastruktur lokal dengan menggunakan konten lokal. Apakah konten lokal selalu berkaitan dengan infrastruktur lokal? Tentu saja tidak :-) Barangkali, di luar sana para penjaja konten sudah mulai menyusun strategi guna memanfaatkan konten lokal, dan mungkin akan menggunakan infrastruktur yang ada di sini. Sudah tidak dapat dipungkiri, beberapa situs yang mengandalkan konten dari user (user generated content), kian hari kian menjadi populer di sini. Apakah itu termasuk konten lokal? Tentu saja iya! :-) Lalu pertanyaannya: Apakah kita tidak perlu mengembangkan konten lokal sendiri? Ya tentu saja tidak, selama nanti apabila semua konten sudah dikuasai/dikelola oleh orang lain (sebagaimana yang terjadi dengan infrastruktur kita sekarang), jangan lagi ada yang teriak ganyang ke kiri ganyang ke kanan :D Apakah tulisan ini merupakan konten lokal? Cuman orang sinting yang menganggap tulisan ini konten dari planet pluto.

Eh .. tadi saya tulis infrastruktur ya. Iya, coba sebutkan mana infrastruktur lokal yang secara signifikan yang telah dan/atau dikuasai oleh orang lokal :-)

Let's Go Archipelago!

Minggu, 21 September 2008

Software Router

Dengan link cuma 1Gbps maksimum, apa yang bisa diharapkan lagi bila sudah tersedia mobo yang bagus, cpu bagus, memory bagus. Menggunakan kartu ethernet dengan chipset 82575EB (intel) sanggup mengirimkan sampai dengan 1,4Mpps menggunakan pktgen :-)

Result: OK: 1194976057(c1050767247+d144208810) usec, 1778276262 (60byte,0frags)
1488127pps 714Mb/sec (714300960bps) errors: 0

Ah .. komputer kian hari kian cepat saja. Hanyalah seorang yang naif yang membayangkan untuk menghabiskan link gigabit orang perlu high performance router yang dilengkapi dengan TCAM/ASIC/whatever.

Tapi memang di dalam kehidupan nyata, kebanyakan manusia lebih menyukai bahkan mempercayai urband legend.

Jumat, 11 Juli 2008

Investasi Jangka Pendek

Tadi malam sampai pagi menghabiskan waktu mengobrol dengan seorang rekan. Mengenai tulisan sebelum ini, menurut rekan tersebut, penyebabnya adalah orang Indonesia rata-rata enggan melakukan investasi jangka panjang, sehubungan dengan ketidakstabilan politik, ekonomi dan budaya. Sepertinya masuk akal :-)

Rabu, 11 Juni 2008

Kejar Setoran

Beli sebanyak-banyaknya, jual sebanyak-banyaknya (over selling), begitulah kurang lebih langkah lazim yang dilakukan oleh pebisnis jasa sambungan internet. Apakah salah? Jelas tidak. Itu realistis, itu kenyataan :-) Barangkali karena kebanyakan kalangan di luar para pebisnis itu, tidak pernah berpikir bahwa dengan internet, maka ada banyak hal atau masalah terselesaikan. Seperti halnya dengan telepon, orang tidak pernah berpikir bahwa dengan telepon, akan ada banyak hal atau masalah yang terselesaikan. Layanan telepon masih dipandang sebagai kebutuhan individual, yang - maaf - bisa dipalak. Itulah mengapa layanan telepon di negara ini menjadi mahal dibanding yang lain. Karena selain penyedia layanan telepon, tidak ada satu pihak pun yang merasa berkepentingan untuk mempermudah seseoarang mendapatkan layanan itu. Kita lihat internet, sama saja, bukan? Buang duit berapa (investasi), dapatnya berapa. Konsekuensi logisnya, akan ada komentar-komentar seperti: bisnis dengan margin yang sempit. dst..dst...

Perkembangan internet itu sendiri, tidak juga kalau dibilang jalan di tempat, bahkan boleh dibilang telah maju dengan pesat. Sayangnya semua masih dikembangkan dengan pola pikir konvensional: kejar setoran. Ada hal yang menarik seperti yang diungkapkan oleh CEO Google dalam satu
wawancara. Kita tahu, banyak hal-hal yang sangat menguntungkan bagi, misalnya, bank atau yang lain dengan adanya internet, tak urung belum bisa menggerakkan atau mengarahkan pikiran mereka untuk membangun bersama. Lepas dari sudah seringkali mereka mengeluarkan kocek yang sama sekali tidak sedikit untuk membiayai iklan di televisi, radio dan media cetak. Ironis, bukan? :D

Lalu, bagaimana caranya? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Kebebasan Berpikir

Sudah jelas. Tanpa dirumuskan pun, sudah dari sononya orang bebas untuk berpikir. Selama orang lain tidak tahu apa saja yang dipikirkan dan ada kemungkinan menganggu dia :-) Mungkin, kalau suatu saat nanti ada suatu alat yang mampu membaca apa saja yang dipikirkan oleh seseorang barulah diperlukan undang-undang untuk mengatur orang supaya bisa berpikir dan membaca pikiran dengan sopan :-) Lantas apa yang dipusingkan kebanyakan orang? Iseng cari di google, waktu berita ini diturunkan, saya berhasil memperoleh 880.000 artikel mengenai 'kebebasan berpikir'. Ada-ada saja :D

Thora Thora Thora

Setelah sedikit sekali bersusah payah, akhirnya bisa juga mengaktifkan Intel XvMC decoder untuk card 945G, onboard, mobo foxconn 500 ribuan (eit .. jangan salah, ini juga hadiah dari orang hi..hi..)
Apalagi processor, lumayan lah: core 2 duo 2.2Ghz, sepertinya sudah siap nonton thora :D

Senin, 05 Mei 2008

Belajar Dari Membajak?

Beberapa kali dalam suatu dialog atau posting di milis atau blog, kita mendengar atau membaca ungkapan seperti ini: "Bagaimana pun juga kita bisa mengerti komputer karena membajak, jadi jangan munafik". Ada satu hal penting yang yang perlu dipahami di sini: membajak itu tindakan melawan hukum. Karena dilarang, maka berlakulah pembajakan. Kalau tidak dilarang, apakah masih bisa disebut sebagai membajak? Jadi, sebelum pemerintah meratifikasi UU terkait HAKI yang secara eksplisit melarang pembajakan, tindakan tersebut tidak boleh dibilang sebagai membajak. Kenapa? Alasannya jelas, selama belum diatur, berarti itu adalah tindakan legal :-)